Lpmsemesta– Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Semesta Universitas Madura menyelenggarakan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut Se-Madura (DJTL) dengan mengusung tema Beyond Headlines: Pers Mahasiswa dan Perlawanan di Tengah Truth Issue. Kegiatan yang dilangsungkan di Aula Rektorat Unira pada hari Jumat, 12 Juni 2026 ini langsung memasuki sesi materi pertama tepat setelah acara pembukaan selesai.
Pelatihan ini diikuti oleh tiga puluh peserta yang terdiri dari anggota internal LPM Semesta Unira serta perwakilan eksternal dari LPM Harokah IAI Al-Khairat dan LPM Surga STAIFA Kadur. Sesi pemaparan materi yang berlangsung dari jam 15.00 hingga 16.30 WIB ini dipandu oleh Riki sebagai moderator, dengan menghadirkan Moh. Ghazi Mujtaba sebagai pemateri yang fokus membedah topik berita mendalam atau in-depth reporting.
Dalam pemaparannya, jurnalis senior Media Indonesia dan Koran Madura yang telah aktif sejak 1999 tersebut menjelaskan bahwa berita mendalam memiliki standar penyajian yang jauh lebih kompleks daripada berita lempang biasa. Menurutnya, karakteristik utama dari liputan mendalam adalah kemampuan menyajikan fakta secara utuh dan analitis, dengan titik berat pada eksplorasi unsur mengapa dan bagaimana suatu peristiwa bisa terjadi.
“Berita mendalam tidak sekadar memungut fakta yang ada di permukaan. Kita dituntut untuk mengupas tuntas latar belakang di balik sebuah kejadian, melakukan perencanaan yang matang, serta membekali diri dengan data yang kuat dan narasumber yang benar-benar kompeten di bidangnya,” ungkap Moh. Ghazi Mujtaba di hadapan para peserta diklat.
Pria kelahiran Pamekasan yang juga aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya tersebut menjabarkan alur peliputan yang harus dilalui oleh jurnalis. Langkah awal harus dimulai dengan diskusi penentuan topik yang tajam. Saat turun ke lapangan untuk observasi dan penggalian data, seorang pewarta harus cerdas memilah antara data primer yang menjadi fondasi berita dan data sekunder sebagai penunjang analisis. Untuk memudahkan pembaca, ia amat menyarankan agar data tidak hanya diselipkan dalam teks, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk bagan atau grafik.
Terkait dengan teknik penggalian informasi, jurnalis peraih penghargaan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Belanda ini membagikan pendekatan khusus dalam melakukan wawancara. Ia menekankan pentingnya menyusun kerangka pokok pikiran secara sistematis daripada sekadar menderetkan daftar pertanyaan kaku. Cara ini membuat alur wawancara mengalir lebih dinamis dan mencegah jurnalis kehabisan bahan pertanyaan. Ketika merangkai tulisan, laporan sebaiknya dibuka dengan temuan paling menarik di lapangan atau lead yang memuat pernyataan terkuat dari narasumber utama.
Pada penghujung materi, ia memberikan penegasan terkait rambu-rambu etika yang pantang dilanggar saat menulis liputan mendalam. Jurnalis dilarang mengubah temuan data lapangan agar sesuai dengan asumsi awal.
“Satu hal yang mutlak tidak boleh dilakukan adalah memasukkan opini pribadi ke dalam tubuh berita. Selain itu, jurnalis pantang membuat kesimpulan akhir pada laporannya. Tugas kita adalah menyajikan fakta objektif secara komprehensif, biarkan hak untuk menyimpulkan sepenuhnya berada di tangan pembaca,” tegasnya menutup sesi materi sore itu.















