Iduladha 1447 H di Tanah Madura: Merawat Iman, Menjaga Tradisi, Menguatkan Solidaritas

  • Bagikan

LPMSEMESTA-Hari Raya Iduladha bukan sekadar perayaan tahunan umat Islam, melainkan momentum suci, pengorbanan, keikhlasan, dan kemanusiaan. Pada 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah tahun 2026 ini, gema takbir kembali menggema dari surau-surau, masjid, hingga pelosok desa di tanah Madura. Masyarakat menyambut hari raya Kurban dengan penuh khidmat, sekaligus menjadikannya ruang mempererat tali persaudaraan dan memperkuat nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

Bagi masyarakat Madura, Iduladha memiliki nuansa yang sangat khas. Tradisi gotong royong, saling membantu dalam proses penyembelihan hewan kurban, hingga kebiasaan berbagi daging kepada tetangga tanpa memandang status sosial menjadi gambaran nyata kuatnya nilai solidaritas masyarakat Madura. Tidak sedikit warga yang rela patungan membeli hewan kurban demi menjaga semangat kebersamaan dan ibadah kolektif di lingkungan desa maupun kampung halaman.

Example 300x600

Di balik penyembelihan hewan kurban, sesungguhnya tersimpan pesan spiritual yang mendalam. Kurban bukan hanya tentang menyembelih sapi atau kambing, tetapi juga menyembelih sifat egoisme, keserakahan, dan sikap individualisme yang perlahan mulai tumbuh di tengah kehidupan modern. Iduladha mengajarkan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan keikhlasan berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Masyarakat Madura sejak dahulu dikenal menjunjung tinggi nilai religiusitas. Filosofi bhuppa’, bhabbhu’, ghuru, rato menjadi landasan moral yang terus hidup dalam kehidupan sosial. Nilai tersebut semakin terasa pada momentum Iduladha, ketika masyarakat berkumpul, saling membantu, dan menumbuhkan rasa hormat satu sama lain. Tradisi ini bukan sekadar budaya, melainkan cerminan kuatnya iman dan takwa yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Iduladha juga menjadi pengingat bahwa agama hadir bukan hanya untuk urusan ritual semata, tetapi juga membawa nilai kemanusiaan universal. Dalam pembagian daging kurban, misalnya, tidak ada sekat antara kaya dan miskin, antara keluarga dekat maupun masyarakat biasa. Semua mendapatkan hak yang sama sebagai bagian dari ukhuwah dan persaudaraan sosial. Nilai inilah yang menjadikan Iduladha sebagai simbol keadilan dan cinta kasih antarsesama manusia.

Di tengah tantangan zaman yang semakin individualistik, masyarakat Madura perlu terus menjaga semangat kebersamaan yang diwariskan leluhur. Tradisi toron, berkumpul bersama keluarga, hingga gotong royong saat hari raya merupakan kekayaan sosial yang tidak boleh luntur oleh perkembangan zaman. Sebab kekuatan masyarakat Madura bukan hanya terletak pada keberanian dan keteguhan prinsip, tetapi juga pada solidaritas dan kepedulian sosial yang terus hidup dalam denyut kehidupan masyarakatnya.

Momentum Iduladha 1447 H hendaknya menjadi refleksi bersama untuk memperkuat iman dan takwa kepada Allah SWT, sekaligus mempererat hubungan kemanusiaan di tengah masyarakat. Sebab sejatinya, kurban bukan hanya tentang darah dan daging yang dibagikan, melainkan tentang ketulusan hati, pengorbanan, dan cinta terhadap sesama.

Selamat Hari Raya Iduladha 1447 H.
Semoga semangat kurban mampu menumbuhkan masyarakat Madura yang religius, harmonis, dan penuh kepedulian sosial.

Oleh: Moh Habibur Rohib 

Pengurus LPM SEMESTA UNIVERSITAS MADURA 

banner 325x300
Penulis: Ahbib
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *