LPM Semesta- Keluarga besar Universitas Madura menggelar Halalbihalal di Gedung Laboratorium Bersama Lantai III Universitas Madura. Acara yang berlangsung Senin pagi (14/04/2025) ini dihadiri oleh penyair kebanggaan pulau Madura, KH. D. Zawawi Imron.
Acara Halal Bihalal ini melibatkan seluruh Civitas Academica Universitas Madura hingga Ormawa yang berada di bawah naungan Universitas Madura. Tujuan diadakan acara ini tidak lain untuk memperkuat silaturahmi dan membangun komunikasi antar semua stakeholder
Dalam Penyampaiannya, KH. D. Zawawi Imron mengatakan “Indonesia sebagai negara dengan 200 juta jiwa lebih kedudukan perguruan tingginya masih kalah dengan Malaysia yang hanya 60 jutaan. Hal ini berarti ada yang terselip dari perguruan tinggi Indonesia. Salah satu yang paling penting dalam mencari ilmu itu semangat, sehingga di Pesantren-Pesantren Madura ada kalimat kalimat yang meyamangati. Terutama bagaimana kita juga mampu memotivasi mahasiswa-mahasiswa kita nanti untuk memberikan motivasi bagaimana semangat belajar. Karena hal ini penting. Hal yang membuat saya mampu menjadi penyair karena saya semangat”, ungkapnya
Dalam melecut semangat, Kiai kelahiran Sumenep itu mengutip ungkapan Imam Syafii, “Dulu di Pesantren ada kata-kata dari Imam Syafii, “jika ada anak muda malas belajar di masa mudanya, maka angkat takbir empat kali sebagai tanda kematiannya”. Maka berilah mereka motivasi, sehingga mereka belajar, selain itu bisa menghasilkan inovasi-inovasi dan menemukan formula-formula baru yang tidak diajarkan oleh dosennya bahkan tidak ada dalam buku-buku”, tegasnya.
Selain itu beliau juga mengungkapkan suatu motivasi dalam wasiat orang Madura.
“Apékkéra be’na kalabân atéh sé jherning, mun pékkéra be’na jherning maka kamuljâen bhekal abârnaé aténah be’na (madura.red). Berpikirlah kamu dengan hati yang jernih, kalau hatimu jernih maka kemuliaan akan mewarnai hatimu. Kalau hati sudah diwarnai dengan kemuliaan maka tidak akan ada rasa benci, iri hati dan akan menerima takdir dari Allah”, ucap Kiai yang masyhur sebagai penyair itu.
Kiai yang terkenal dengan puisi Celurit Emas itu juga menekankan pentingnya penanaman spirit nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air. “Kita juga harus cinta tanah air karena kita semua minum air Indonesia menjadi darah kita. Kita makan beras, buah-buahan dan ikan di Indonesia menjadi daging kita. Kita menghirup udara Indonesia menjadi nafas kita. Kita bersujud di atas bumi Indonesia berarti bumi Indonesia sajadah kita. Hal ini konkrit bukan imajinasi”, pungkasnya.
Beliau mengakhiri penyampaiannya dengan membaca pantun “Pohon durian berbuah kedondong, sekian dulu dong. Jadi Bupati ke Tanggerang, cari makan ikan Tenggiri, kalau puisinya masih kurang, silahkan Bikin Sendiri,” tutupnya sembari melempar senyum















