
Lpmsemesta – Madura menghadapi tantangan pembangunan yang kompleks. Di satu sisi, perekonomian daerah terus bergerak, infrastruktur semakin dibangun, aktivitas perdagangan dan jasa semakin berkembang, dan kualitas pembangunan manusia semakin baik. Di sisi lain, masyarakat masih menghadapi masalah klasik seperti keterbatasan lapangan kerja, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tidak merata, rendahnya produktivitas, dan struktur ekonomi yang belum sepenuhnya mampu menciptakan pekerjaan berkualitas tinggi. Angka pengangguran terbuka bukanlah satu-satunya cara untuk memahami masalah ini. Pendidikan, kualitas sumber daya manusia, struktur ekonomi, produktivitas, kesempatan kerja, dan kemampuan pemerintah daerah untuk menciptakan ekosistem ekonomi baru semuanya berkorelasi dengan tantangan ketenagakerjaan di Madura.
Data terbaru menghasilkan kesimpulan yang menarik. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada tahun 2025 adalah 3,88 persen. Kondisi di Madura sangat beragam, dengan Bangkalan pada 5,31%, Sampang pada 2,44%, Pamekasan pada 1,33%, dan Sumenep pada 1,64%. Madura tidak dapat dianggap sebagai satu kesatuan ekonomi. Meskipun ada daerah dengan tekanan pengangguran yang relatif tinggi, ada juga daerah dengan TPT yang sangat rendah. Namun, TPT yang rendah tidak otomatis berarti masalah ketenagakerjaan telah diselesaikan. Angka TPT hanya menunjukkan jumlah orang yang tidak bekerja dibandingkan dengan orang yang bekerja. Ia belum sepenuhnya menjawab pertanyaan tentang kualitas pekerjaan, kesesuaian kompetensi, tingkat upah, produktivitas, jam kerja, dan informalitas. Akibatnya, sangat mudah untuk membuat kesimpulan tentang masa depan ekonomi Madura hanya berdasarkan angka pengangguran.
PENGANGGURAN MADURA: PERSOALAN YANG TIDAK SERAGAM
Menurut data dari tahun 2025, di antara empat kabupaten Madura, Bangkalan adalah yang paling banyak mengalami pengangguran. TPT Bangkalan adalah 5,31%, jauh di atas rata-rata Jawa Timur sebesar 3,88%. Sebaliknya, Pamekasan adalah 1,33%, Sumenep 1,64%, dan Sampang adalah 2,44%.Data menunjukkan bahwa ada perbedaan struktural di pasar kerja Madura. Secara geografis, Bangkalan paling dekat dengan Surabaya dan wilayah ekonomi Jawa Timur. Secara teoritis, kedekatan geografis seharusnya menghasilkan keuntungan ekonomi melalui akses pasar, investasi, transportasi, dan mobilitas tenaga kerja. Namun, TPT Bangkalan sebesar 5,31% menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja lokal tidak otomatis dihasilkan oleh kedekatan geografis. Sebaliknya, TPT Pamekasan hanya 1,33%, yang merupakan yang terendah di Jawa Timur. Tetapi rendahnya TPT harus dipahami dengan hati-hati. Seseorang dapat dikategorikan sebagai bekerja di daerah yang dominan oleh usaha mikro, pertanian, perdagangan kecil, pekerjaan keluarga, dan sektor informal. Ini terlepas dari fakta bahwa pekerjaan ini mungkin tidak memberikan pendapatan yang tinggi atau perlindungan sosial yang memadai. Oleh karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan sekadar “berapa banyak orang yang menganggur?” tetapi juga “berapa banyak penduduk yang bekerja secara produktif dan memperoleh pekerjaan yang layak?”
KUALITAS SDM MENJADI PERSOALAN FUNDAMENTAL
Problem ketenagakerjaan di Madura tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia. Produksi tenaga kerja sangat bergantung pada pendidikan. Menurut data BPS, rata-rata lama sekolah (RLS) di empat kabupaten Madura masih relatif rendah pada tahun 2025. RLS di Bangkalan adalah 6,15 tahun, Sampang adalah 5,19 tahun, Pamekasan adalah 7,29 tahun, dan Sumenep adalah 6,24 tahun. Di antara tiga kabupaten Madura lainnya, Pamekasan memiliki capaian pendidikan yang lebih baik. Namun, RLS 7,29 tahun masih menunjukkan bahwa penduduk usia dewasa secara rata-rata belum mencapai jenjang SMP sepenuhnya. Situasi di Sampang bahkan lebih sulit. Menurut BPS Sampang, RLS pada tahun 2025 meningkat dari 5,08 tahun pada tahun 2024 menjadi 5,19 tahun pada tahun 2025, yang menunjukkan bahwa rata-rata penduduk usia 25 tahun ke atas baru memulai pendidikan di kelas lima sampai enam sekolah dasar.
Situasi ini berdampak ekonomi. Dalam teori modal manusia, pendidikan membantu orang memperoleh pekerjaan, menjadi lebih produktif, beradaptasi dengan teknologi, dan menghasilkan lebih banyak uang. Ketika tingkat pendidikan rendah, tenaga kerja cenderung berkonsentrasi pada sektor yang memiliki hambatan masuk rendah, seperti pertanian tradisional, perdagangan informal, pekerjaan keluarga, jasa sederhana, dan pekerjaan yang berproduktivitas rendah. Dengan kata lain, masalah sumber daya manusia tidak hanya terkait dengan pendidikan formal; kemampuan untuk mengubah pendidikan menjadi produktivitas ekonomi juga merupakan masalah.
IPM MEMBAIK TAPI DISPARITAS MASIH TERLIHAT
Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan prospek yang lebih baik. IPM Bangkalan pada tahun 2025 mencapai 68,15, meningkat dari 67,33 pada tahun 2024. Pemekasan mencapai 71,64 poin, naik 0,79 poin dari 2024. BPS mengatakan peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan standar hidup, pendidikan, dan layanan kesehatan. Harapan Lama Sekolah meningkat menjadi 13,83 tahun, dan RLS Pamekasan meningkat menjadi 7,29 tahun. Bahkan pada tahun 2025, Sumenep berhasil masuk dalam kategori IPM tinggi dengan nilai 70,54, meningkat dari 69,78 pada tahun 2024. Menurut BPS Sumenep, IPM Sumenep tumbuh rata-rata 1,01% per tahun selama periode 2021–2025, menjadi pertumbuhan IPM tertinggi di Madura selama periode tersebut. Sementara itu, Sampang naik 0,51 poin menjadi 67,23, dan RLS Sampang naik menjadi 5,19 tahun. Data menunjukkan kemajuan dalam pembangunan manusia Madura. Namun, kualitas dan kecepatan transformasi adalah masalahnya. Output tenaga kerja harus meningkat sebagai hasil dari peningkatan IPM. Pendidikan dan kesehatan harus menciptakan tenaga kerja yang produktif, dan peningkatan daya beli harus terkait dengan pembentukan pekerjaan yang stabil. Jika tidak, peningkatan IPM mungkin hanya menunjukkan peningkatan administrasi pembangunan dan tidak menunjukkan transformasi ekonomi yang sebenarnya.
PERTUMBUHAN EKONOMI TIDAK OTOMATIS MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja adalah salah satu masalah penting dalam pembangunan Madura. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan permintaan tenaga kerja teoritis, tetapi tidak selalu linear. Teknologi, konsumsi, produktivitas modal, atau sektor-sektor yang kekurangan tenaga kerja dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi. Pengalaman di Pamekasan memberikan contoh. Ekonomi Pamekasan tumbuh 4,88 persen pada 2024, dengan PDRB sekitar Rp22,5 triliun atas dasar harga berlaku. Sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,32%, konstruksi sebesar 8,95%, dan jasa lainnya sebesar 7,38%. Bahkan data PDRB Pamekasan 2021–2025 telah digunakan sebagai dasar untuk menilai perkembangan ekonomi selama lima tahun terakhir dalam publikasi BPS terbaru.Permasalahannya adalah bagaimana pertumbuhan dapat diubah menjadi pekerjaan yang menguntungkan bagi masyarakat lokal. Misalnya, karena sektor konstruksi berkembang, ada kemungkinan peningkatan tenaga kerja; namun, beberapa pekerjaan bersifat proyek dan tidak selalu permanen. Pertumbuhan industri transportasi juga dapat meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi sebagian besar bisnis beroperasi pada skala mikro. Akibatnya, strategi ekonomi Madura harus beralih dari perspektif “pertumbuhan ekonomi” ke perspektif “pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan padat kesempatan kerja”.
MADURA MENGHADAPI STRUKTUR EKONOMI
Madura memiliki banyak potensi ekonomi. Modal ekonomi dapat dikembangkan dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, batik, kerajinan, pariwisata, ekonomi pesantren, UMKM, dan berbagai industri berbasis budaya. Namun, sebagian besar bisnis masih menghadapi masalah seperti teknologi, akses ke pembiayaan, pemasaran, produktivitas, standarisasi produk, dan hubungan dengan pasar yang lebih luas. Masalah terbesar bukanlah ketiadaan potensi; itu adalah ketidakmampuan untuk mengubah potensi menjadi nilai tambah. Misalnya, bagi sebagian besar masyarakat Madura, embakau adalah komoditas penting. Namun, petani akan menghasilkan lebih banyak uang jika mereka berkolaborasi dengan industri pengolahan, pengemasan, distribusi, branding, dan pasar bernilai tinggi selain hanya menjual bahan mentah. Ini berlaku untuk batik, keris, meubel, produk olahan makanan, hasil laut, dan berbagai produk UMKM lainnya. Ekonomi Madura harus berubah dari ekonomi berbasis komoditas ke ekonomi berbasis nilai tambah. Di sinilah kualitas sumber daya manusia menjadi sangat penting. Tidak cukup memiliki gelar untuk menjadi pekerja masa depan. Mereka membutuhkan keterampilan digital, pemasaran, desain produk, manajemen keuangan, bahasa, teknologi produksi, kewirausahaan, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar.
TANTANGAN DIGITALISASI DAN INDUSTRI 4.0
Madura melihat peluang dan ancaman dari transformasi digital. Dengan digitalisasi, UMKM dapat menjual barang mereka melalui pasar, media sosial, pembayaran digital, dan pasar nasional. Namun, digitalisasi juga meningkatkan persaingan. Produk lokal Madura sekarang bersaing dengan produk dari Bangkalan, Pamekasan, Sampang, atau Sumenep, serta produk dari seluruh Indonesia dan bahkan dari luar negeri. Akibatnya, peningkatan literasi digital harus menjadi komponen strategi ketenagakerjaan. Bukan hanya mencari pekerjaan konvensional, generasi muda Madura harus diarahkan menjadi digital entrepreneur, creative worker, freelancer, content creator, designer, digital marketer, programmer, dan profesional berbasis teknologi. Sekolah kejuruan dan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam proses tersebut. Kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan industri. Pendidikan tidak hanya harus menghasilkan siswa, tetapi juga harus menghasilkan kemampuan yang dapat digunakan di pasar kerja.
MIGRASI TENAGA KERJA SOLUSI ATAU GEJALA
Salah satu ciri ekonomi Madura adalah mobilitas untuk mencari pekerjaan di luar daerah sangat tinggi. Sebagian orang Madura pergi ke Surabaya, kawasan Gerbangkertosusila, Jakarta, Bali, bahkan Malaysia, untuk bekerja. Migrasi dapat menjadi strategi ekonomi rumah tangga; itu tidak selalu negatif. Keluarga dapat meningkatkan pendapatan mereka dan membayar sekolah dengan remitansi dari pekerja di luar daerah. Namun, jika migrasi terjadi karena daerah asal tidak memiliki pekerjaan yang produktif, fenomena tersebut harus dianggap sebagai tanda bahwa daya serap ekonomi lokal terbatas. Madura tidak boleh hanya menyediakan tenaga kerja. Mereka harus mulai membangun ekosistem ekonomi yang memungkinkan masyarakatnya menjadi produsen, pengusaha, investor, inovator, dan pencipta lapangan kerja.
APA YANG HARUS DILAKUKAN
Pertama, pemerintah daerah harus membuat rencana penciptaan lapangan kerja yang berbasis sektor unggulan daerah. Kebijakan tidak boleh berhenti pada pelatihan kerja; akses pasar, pembiayaan, pendampingan, dan penempatan kerja harus diikuti setelah pelatihan. Kedua, diperlukan peningkatan fasilitas pendidikan vokasi. Industri, UMKM, sektor digital, pertanian modern, perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif harus terkait langsung dengan program pendidikan dan sekolah kejuruan.Ketiga, investasi harus difokuskan pada sektor yang memiliki dampak multiplier yang signifikan terhadap tenaga kerja lokal. Investasi yang hanya meningkatkan nilai PDRB tetapi tidak menciptakan banyak pekerjaan lokal harus dievaluasi.
Keempat, UMKM harus diakui. Bantuan modal pemerintah tidak cukup. Digitalisasi, standarisasi, sertifikasi, branding, packaging, akses pasar, dan manajemen yang lebih baik diperlukan. Kelima, sistem pengembangan talenta Madura harus dibangun. Ini adalah ekosistem pengembangan talenta yang menggabungkan perguruan tinggi, pemerintah, pesantren, bisnis, industri, komunitas, dan lembaga pelatihan. Keenam, perlu bagi pemerintah empat kabupaten untuk membangun kerja sama ekonomi lokal. Bangkalan tidak boleh dianggap hanya sebagai wilayah administratif yang independen. Kedekatannya dengan Surabaya harus dimanfaatkan untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sampang dapat mengembangkan sektor pertanian, energi, dan industri berbasis sumber daya lokal, sedangkan Pamekasan dapat memperkuat perdagangan, jasa, pendidikan, dan UMKM. Sumenep memiliki banyak peluang di bidang kelautan, pariwisata, ekonomi kepulauan, dan kreatif.
MEMBANGUN MASA DEPAN EKONOMI MADURA
Data ketenagakerjaan 2025 sebenarnya menunjukkan dua wajah Madura. Yang pertama adalah positif: Pamekasan dan Sumenep memiliki TPT yang sangat rendah, sementara seluruh kabupaten menunjukkan peningkatan pembangunan manusia. Yang kedua adalah peringatan: Bangkalan masih memiliki TPT 5,31%, sementara kesenjangan pendidikan antarkabupaten terus meningkat. Akibatnya, tidak perlu dipahami bahwa semua orang Madura menganggur dengan istilah “Madura dalam bayang-bayang pengangguran”. Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai peringatan bahwa Madura menghadapi risiko kekurangan pekerjaan produktif karena perubahan struktur ekonomi dan meningkatnya tuntutan tenaga kerja yang berkualitas. Jumlah lowongan kerja yang tersedia bukan masalah utama bagi Madura. Apakah ekonomi Madura mampu menciptakan pekerjaan yang layak, berkelanjutan, dan sesuai dengan kemampuan generasi muda? Ini adalah pertanyaan yang lebih mendasar. Jawa Timur sendiri memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,22% secara tahunan pada triwulan ketiga tahun 2025 dan tumbuh 5,15% hingga triwulan ketiga tahun itu. Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dengan 31,16% dari pertumbuhan total ekonomi. Seberapa besar bagian Madura dalam transformasi ekonomi? Ini adalah tempat paling sulit bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, bisnis, pesantren, dan masyarakat Madura. Perubahan paradigma dari “mencari pekerjaan” menjadi “menciptakan pekerjaan”, “menjual tenaga kerja” menjadi “menjual kompetensi”, dan “menjual bahan mentah” menjadi “menciptakan nilai tambah” adalah semua yang diperlukan Madura. Bonus demografi Madura dapat berubah menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa jika transformasi tersebut berhasil. Namun, jika investasi tidak menciptakan pekerjaan, UMKM tidak naik kelas, dan ekonomi tetap bergantung pada sektor berproduktivitas rendah, bonus demografi dapat berubah menjadi tekanan sosial-ekonomi. Pada akhirnya, masa depan Madura akan ditentukan oleh seberapa besar PDRB akan berkembang, tetapi juga seberapa besar pertumbuhan tersebut akan memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas manusia di wilayah tersebut. Madura membutuhkan ekonomi yang tidak hanya berkembang tetapi juga menyerap tenaga kerja. Membutuhkan pendidikan yang tidak sekadar menghasilkan ijazah, tetapi keterampilan; investasi yang tidak sekadar meningkatkan nilai produksi, tetapi juga menciptakan pekerjaan. Yang paling penting, kebijakan pembangunan yang mengutamakan manusia dalam transformasi ekonomi diperlukan. Oleh karena itu, tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh orang-orang Madura dalam sepuluh tahun mendatang tidak hanya mengurangi tingkat pengangguran, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang memungkinkan anak-anak muda Madura tinggal di daerahnya untuk memiliki masa depan yang layak. Itu adalah ukuran sesungguhnya dari keberhasilan pembangunan, bukan hanya jumlah proyek yang selesai, tetapi juga jumlah orang Madura yang mampu memperoleh pekerjaan yang layak, meningkatkan pendapatan, membangun usaha, dan membangun masa depan di tanah kelahirannya sendiri.







