Kembalikan APBD Pamekasan kepada Rakyat, Bukan Bancakan Elite, Ekonomi Dipertaruhkan

  • Bagikan

 

Example 300x600

Lpmsemesta – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah representasi paling nyata dari kepedulian pemerintah kepada rakyat. APBD berisi keputusan politik tentang siapa yang akan mendapatkan pelayanan, sektor mana yang akan diprioritaskan, wilayah mana yang akan dibangun, kelompok masyarakat mana yang akan dilindungi, dan bagaimana pemerintah daerah menggunakan dana publik untuk meningkatkan kesejahteraan. Akibatnya, APBD tidak boleh digunakan sebagai tempat untuk transaksi kepentingan elit. Kepala daerah, Dewan Perwakilan Rakyat, partai politik, atau kelompok tertentu tidak memiliki APBD. APBD adalah instrumen fiskal yang sumber utamanya berasal dari dana publik dan harus dikembalikan untuk pelayanan, pembangunan, perlindungan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ketika Pamekasan menghadapi masalah ekonomi dan membutuhkan stabilitas pemerintahan, diskusi tentang APBD menjadi semakin penting. Menurut Badan Pusat Statistik, ekonomi Pamekasan akan tumbuh 5,47 persen pada tahun 2025, dengan PDRB mencapai 24,30 triliun pada harga berlaku. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa ekonomi lokal terus berkembang dengan baik.Namun, pertumbuhan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan masalah struktural. Pada Maret 2025, kemiskinan di Pamekasan turun menjadi 12,77% dari 13,41% pada Maret 2024. Sekitar 118.522 orang dianggap miskin, dengan indeks kedalaman kemiskinan meningkat dari 1,05 menjadi 1,45. Selain itu, garis kemiskinan rata-rata meningkat menjadi Rp482.278 per bulan. Sudah jelas bahwa meskipun jumlah kemiskinan telah berkurang, tekanan ekonomi terhadap orang-orang miskin terus berlanjut. Dalam kondisi seperti itu, APBD harus menjadi lebih baik. Bukan semakin berubah menjadi tempat perkelahian kekuasaan.

APBD adalah Uang Rakyat

Secara akademik, APBD adalah instrumen kebijakan fiskal daerah yang berfungsi sebagai dokumen administrasi dan juga sebagai alat alokasi, distribusi, stabilisasi, dan pembangunan. Fungsi alokasi menentukan sektor-sektor yang berhak mendapatkan sumber daya, dan fungsi distribusi menunjukkan bahwa anggaran digunakan untuk mengurangi kesenjangan dan meningkatkan akses ke layanan. Akibatnya, setiap keputusan APBD memiliki dampak ekonomi. Biaya distribusi petani dapat berkurang ketika anggaran dialokasikan untuk pembangunan jalan produksi dan pasar tradisional diperkuat. Produksi masyarakat dapat meningkat dengan peningkatan kualitas modal manusia dan pelayanan kesehatan. Sebaliknya, kemungkinan pemerintah untuk melakukan intervensi pembangunan berkurang jika anggaran lebih banyak digunakan untuk belanja yang memiliki manfaat sosial-ekonomi yang rendah. Untuk alasan ini, APBD harus dievaluasi dari sudut pandang nilai publik daripada hanya dari sudut pandang administrasi anggaran. Pertanyaan utama bukan hanya jumlah anggaran. Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menerima dana tersebut? Apa keuntungan? Siapa yang mendapatkan keuntungan? Bagaimana pengaruhnya terhadap ekonomi rakyat?

Jangan Jadikan APBD Sebagai Bancakan

Dalam perspektif publik, istilah “bancakan” jelas bukan tuduhan hukum terhadap individu tertentu. Istilah ini harus dipahami sebagai kritik terhadap gagasan yang menjadikan anggaran publik sebagai tempat untuk berbagi kepentingan pribadi. Apabila penyusunan program ditentukan oleh kepentingan politik jangka pendek daripada kebutuhan pembangunan, APBD akan kehilangan maknanya. Selain itu, aktor birokrasi dan aktor politik berbeda dalam teori pemilihan publik. Akibatnya, ada kebutuhan akan sistem yang memantau agar keputusan publik tidak diambil oleh kelompok tertentu. Pemerintah dan DPRD bertindak sebagai penerima mandat, sementara masyarakat adalah pihak yang memberikan mandat dari perspektif principal-agent theory. Ketika agen memperhatikan kepentingannya sendiri daripada kepentingan principal, ada masalah. Rakyat adalah pemimpin dalam konteks daerah. Pemerintah dan DPRD bertindak sebagai agen. Oleh karena itu, kepentingan rakyat harus selalu menjadi fokus APBD. Anggaran harus menjawab masalah ketika masyarakat membutuhkan lapangan kerja. Anggaran harus tepat sasaran ketika UMKM membutuhkan akses pasar; ketika petani membutuhkan infrastruktur produksi dan kepastian harga; dan ketika masyarakat miskin membutuhkan perlindungan sosial, anggaran harus membantu membuka ekosistem pasar. APBD harus memperkuat pendidikan dan pelatihan karena generasi muda membutuhkan keterampilan. Itu adalah contoh APBD yang menguntungkan rakyat.

Ekonomi Pamekasan Sedang Bergerak

Data BPS membuat Pamekasan optimistis. Pada tahun 2025, perekonomian provinsi akan tumbuh 5,47 persen, dengan PDRB mencapai 24,30 triliun pada harga berlaku. Menurut lapangan usaha, sektor penyediaan akomodasi dan minuman tumbuh sebesar 10%, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 4,52%. Ekonomi Pamekasan sangat bergantung pada industri yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Perdagangan juga memainkan peran besar, dengan pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sektor utama. Ini menunjukkan bahwa ekonomi Pamekasan bersifat rakyat. Dengan mempertimbangkan bahwa petani, pedagang, UMKM, warung, pekerja informal, pengusaha kecil, dan industri rumah tangga adalah pilar ekonomi daerah, APBD harus direncanakan untuk mendukung mereka. bukan sekadar meningkatkan anggaran pemerintah apalagi menurunkan anggarannya.

Pertumbuhan Ekonomi Harus Menjadi Pertumbuhan Kesejahteraan

Ada kesalahan umum dalam membaca statistik pembangunan karena peningkatan PDRB sering dianggap sebagai hasil otomatis, yang berarti kesejahteraan masyarakat meningkat secara merata. Namun, kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi adalah konsep yang berbeda.

PDRB menghitung jumlah aktivitas ekonomi yang dilakukan di suatu daerah. Meskipun distribusi pendapatan, kesempatan kerja, akses ke pendidikan, kesehatan, kualitas lingkungan, dan kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasar adalah faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan. Akibatnya, titik awal harus menjadi pertumbuhan 5,47 persen, bukan penurunan. Pertanyaannya adalah, siapa yang merasakan manfaat dari peningkatan ini? Apakah petani menghasilkan keuntungan yang lebih besar? Apakah pedagang kecil terus berkembang? Apakah UMKM semakin maju? Apakah generasi muda mendapat pekerjaan? Apakah kemiskinan struktural mengalami penurunan?Apakah pelayanan publik lebih baik? APBD harus bekerja di sini.

Kemiskinan Turun Akan Tetapi Jangan Cepat Berpuas Diri

Data kemiskinan Pamekasan menarik. Persentase penduduk miskin turun menjadi 12,77 persen pada Maret 2025, tetapi indeks kedalaman kemiskinan meningkat dari 1,05 pada tahun sebelumnya menjadi 1,45. Garis kemiskinan juga meningkat menjadi Rp482.278 per bulan, menurut BPS. Apa pengertiannya? Pemerintah tidak hanya berusaha menurunkan tingkat kemiskinan. Kebijakan harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan pendapatan kelompok yang berada di bawah garis kemiskinan sekaligus mengurangi jarak mereka dari garis kemiskinan. Akibatnya, APBD harus difokuskan pada kebijakan yang menghasilkan. Bantuan sosial sangat penting, tetapi itu tidak boleh menjadi satu-satunya metode. Akses ke pekerjaan, pendidikan, kesehatan, modal usaha, keterampilan, infrastruktur, dan pasar sangat penting bagi masyarakat miskin. Dengan kata lain, kebijakan APBD harus berubah sebagian dari kebijakan yang berpusat pada kebijakan ke arah kebijakan yang berpusat pada kekuatan. Bantuan untuk bertahan hidup masyarakat lebih dari itu. Untuk membantu mereka meningkatkan kapasitas keuangan mereka, mereka harus diberdayakan.

IPM Meningkat, Human Capital Diperkuat

Indeks Pembangunan Manusia Pamekasan pada tahun 2025 mencapai 71,64 poin, naik 0,79 poin, atau sekitar 1,11%, dari 2024. Masa hidup rata-rata 73,85 tahun. Ini adalah perkembangan yang baik. Namun, kebijakan jangka panjang diperlukan untuk pembangunan manusia. IPM merupakan gambaran dari kualitas hidup masyarakat; itu bukan sekadar angka yang harus ditingkatkan setiap tahun. Akibatnya, APBD harus digunakan untuk investasi manusia. Pendidikan harus diprioritaskan. Pelatihan kerja harus ditingkatkan. Kesehatan masyarakat perlu diperbaiki. Keahlian digital harus ditingkatkan. Yang tidak kalah penting, setiap upaya untuk meningkatkan kualitas manusia harus terkait dengan pasar kerja.

Jangan sampai pemerintah melakukan peningkatan pendidikan tetapi tidak menciptakan lingkungan ekonomi yang mampu menerima tenaga kerja yang terdidik.

APBD Dan Tantangan Lapangan Kerja

Tingkat partisipasi angkatan kerja di Pamekasan sebesar 79,85 persen dan tingkat pengangguran terbuka sekitar 1,33% pada tahun 2025, menurut data statistik pemerintah daerah. Tidak otomatis masalah ketenagakerjaan diselesaikan karena angka pengangguran terbuka yang rendah. Ada masalah dengan karyawan informal; karyawan yang memiliki tingkat produktivitas yang rendah; setengah pengangguran; karyawan yang bekerja tetapi menerima gaji yang tidak memadai; dan anak muda yang sangat membutuhkan pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Akibatnya, indikator pengangguran terbuka tidak boleh menjadi satu-satunya alat untuk kebijakan ekonomi daerah. Diharapkan APBD mendorong pekerjaan yang layak, produktivitas, kewirausahaan, dan peningkatan pendapatan. Memperkuat UMKM adalah salah satu cara.

APBD Harus Menjadi Mesin UKM

Investasi besar tidak cukup untuk membangun ekonomi Pemekasan. Jaringan usaha kecil sangat penting bagi ekonomi lokal. Struktur ekonomi masyarakat terdiri dari toko, pedagang pasar, industri rumah tangga, batik, makanan olahan, kerajinan, pertanian, peternakan, perikanan, dan berbagai usaha mikro. Kebijakan yang nyata sangat penting bagi mereka. Pertama, akses ke pembiayaan, kemudian digitalisasi, dan terakhir, pendampingan manajemen. Keempat, memiliki akses ke pasar. Kelima, peningkatan kualitas produk dan keenam, legalitas yang lebih mudah. Ketujuh, masuk ke dalam rantai pasokan pemerintah. Melalui kebijakan pengadaan barang dan jasa yang sesuai regulasi, APBD dapat menjadi alat untuk menghubungkan UMKM dengan belanja pemerintah. Dengan cara ini, dana yang diberikan pemerintah kembali ke masyarakat. Ini adalah ide multiplier ekonomi lokal. Setiap uang yang dibelanjakan pemerintah seharusnya memiliki potensi untuk menghasilkan bisnis baru di wilayah tersebut.

Jangan Biarkan Konflik Politik Menganggu Kepentingan Fiskal

Kepentingan ekonomi masyarakat harus terpisah dari masalah politik DPRD. Pada awal September 2026, dilaporkan bahwa rapat paripurna DPRD Pamekasan ditunda karena tidak memenuhi kuorum. Agar publik memiliki pemahaman yang akurat tentang prosesnya, pemberian tersebut harus didasarkan pada risalah resmi, daftar hadir, dan tata tertib Dewan. Yang penting bukan siapa yang hadir. Dampaknya terhadap pemerintah adalah yang jauh lebih penting.

Program pemerintah juga dapat tertunda jika proses pengambilan keputusan anggaran tertunda. Jika program tertunda, pencairan anggaran dapat terganggu, dan kegiatan ekonomi yang bergantung pada belanja pemerintah juga dapat terpengaruh. Akibatnya, stabilitas kelembagaan merupakan komponen penting dari stabilitas ekonomi. Pada akhirnya, DPRD yang kuat diperlukan. Pemerintah juga harus kuat, tetapi kuat bukan berarti dominan. Pemerintah yang kuat adalah pemerintah yang mampu bekerja dengan transparan, akuntabel, responsif, dan terbuka terhadap kritik. DPRD yang kuat adalah DPRD yang kritis, berbasis data, transparan, dan konsisten memperjuangkan kepentingan publik.

Transparansi DPRD Harus Diperluas

Pada situs web resmi pemerintah daerah, yang mencakup dokumen APBD 2026, pemerintah Kabupaten Pamekasan menawarkan kanal transparansi APBD. Ini adalah kemajuan yang baik. Namun, publikasi dokumen tidak boleh menghentikan transparansi. Tidak selalu orang awam dapat memahami struktur APBD yang sangat teknis. karena itu transparansi komunikatif diperlukan. Berapa anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan harus dijelaskan secara sederhana oleh pemerintah? Berapa biaya untuk kesehatan? Berapa biaya yang diperlukan untuk infrastruktur? Berapa jumlah uang yang diperlukan untuk perlindungan sosial? Berapa jumlah uang yang diperlukan untuk pertanian? Berapa anggaran UMKM? Berapa besar anggaran untuk birokrasi? Apa yang menunjukkan tingkat keberhasilannya? Berapa banyak orang yang menerima manfaat? Apa hasil yang diharapkan? Dengan demikian, masyarakat memiliki kemampuan untuk secara substantif mengawasi APBD.

DPRD Harus Mengawasi Bukan Membagi

Untuk memastikan APBD tetap menjadi alat yang bermanfaat bagi masyarakat, DPRD memiliki peran strategis. Fungsi anggaran DPRD berarti memastikan setiap kebijakan fiskal memiliki dasar kebutuhan yang jelas, target yang terukur, dan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan berarti membagi proyek atau program berdasarkan kepentingan politik. Selain itu, fungsi pengawasan. Pengawasan bukan sekadar mengadakan pertemuan atau memanggil kepala dinas. Pengawasan harus mengukur input, proses, output, hasil, dan dampak. Berapa jumlah dana yang dialokasikan? Apa yang sedang dibangun? Berapa banyak komunitas yang mendapat manfaat? Apa yang telah berubah? Selain itu, apakah perubahan tersebut mencapai tujuan? Ini adalah pengawasan kontemporer.

Rakyat Harus Mendapat Ruang

Tata kelola pemerintahan kontemporer bergantung pada partisipasi publik. Masyarakat harus diberi kesempatan untuk mengetahui dan berpartisipasi dalam prioritas anggaran. Forum musyawarah perencanaan pembangunan harus lebih dari sekedar acara administratif. Partisipasi harus signifikan. Petani, pelaku UMKM, dan pemuda harus dapat menyampaikan masalah pertanian, usaha, dan kebutuhan dasar. Infrastruktur harus dapat diakses oleh masyarakat desa. Akibatnya, APBD akan semakin dekat dengan kebutuhan sebenarnya.

Jangan Pertaruhkan Ekonomi Demi Kepentingan Politik

Ekonomi Pamekasan tumbuh 5,47 persen, dengan PDRB Rp24,30 triliun.IPM naik menjadi 71,64 dan tingkat kemiskinan turun menjadi 12,77 persen. Namun, 118.522 orang masih miskin. Angka-angka ini menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama dan terpenting, ada kemajuan. Kedua, masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, upaya politik seharusnya difokuskan pada penyelesaian masalah dengan cepat daripada memperpanjang konflik. Pemekasan tidak membutuhkan politik anggaran yang hanya dimiliki oleh mereka. Pemekasan memerlukan politik anggaran yang menghasilkan. Politik tidak bertanya, “kelompok saya mendapatkan apa?” tetapi, “masyarakat mendapatkan apa?”

Kembalikan APBD Kepada Rakyat

Pada akhirnya, APBD harus dikembalikan ke pemilik sebenarnya, yaitu rakyat.

tidak menjadi “bancakan” para elit. bukan sebagai alat untuk transaksi politik. bukan untuk digunakan untuk mendukung kelompok tertentu. dan bukan hanya angka dalam dokumen pemerintah. APBD harus menjadi alat untuk meningkatkan kualitas manusia, termasuk pasar, sekolah, fasilitas kesehatan, pertanian, UMKM, lapangan kerja, dan lingkungan. Masyarakat harus merasakan pertumbuhan ekonomi Pamekasan. Peningkatan IPM harus meningkatkan kesempatan hidup. Masyarakat miskin harus semakin mampu keluar dari kemiskinan jika kemiskinan turun.

Dan publik harus diberi penjelasan tentang perubahan APBD jika terjadi peningkatan atau perubahan. Akibatnya, pemerintah dan lembaga legislatif harus membuat perjanjian fiskal baru dengan masyarakat yang menunjukkan transparansi dalam perencanaan, keterbukaan dalam diskusi, ketegasan dalam penganggaran, pengawasan yang ketat, dan pertanggungjawaban yang jelas. APBD yang hanya “habis terserap” tidak diperlukan oleh Pemekasan. APBD yang berpengaruh diperlukan untuk akhir. bukan hanya pengambilan dana, tetapi pembentukan nilai public Bukan hanya jumlah uang yang dibelanjakan, tetapi juga bagaimana kehidupan masyarakat telah diubah. Bukan hanya jumlah proyek yang selesai, tetapi juga jumlah masalah rakyat yang diselesaikan. Maka pesan publik harus jelas: Kembalikan APBD Pamekasan kepada masyarakat. Orientasi publik harus dipertahankan dengan uang publik. Kepastian ekonomi harus dilindungi dari konflik politik. Jangan biarkan kebutuhan masyarakat mengalahkan kepentingan para elit. Karena kesalahan dalam APBD tidak hanya berdampak pada angka dalam neraca pemerintah. Masa depan ekonomi Pamekasan dan kesejahteraan penduduknya berada dalam bahaya.

 

 

 

banner 325x300
Penulis: Fajar
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *