Lpmsemesta – Setiap momentum peringatan seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ruang untuk merefleksikan perjalanan dan masa depan sebuah sektor. Begitu pula dengan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190. Dengan semangat “Swasembada Protein Hewani untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”, momentum ini menjadi pengingat bahwa peternakan dan kesehatan hewan memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan peternak, serta memastikan ketersediaan protein hewani yang cukup, aman, sehat, dan berkualitas bagi masyarakat.
Sebagai mahasiswa peternakan sekaligus putra Madura, saya merasa memiliki kebanggaan tersendiri untuk menjadi bagian dari generasi muda yang ikut memikirkan masa depan dunia peternakan. Madura tidak hanya dikenal karena kekayaan budaya dan tradisinya, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari peternakan, khususnya Sapi Madura.
Sapi Madura diyakini telah berkembang di Pulau Madura sejak sekitar abad ke-14. Keberadaannya hingga kini bukan sekadar sebagai ternak yang dipelihara untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura. Bahkan, hubungan antara masyarakat Madura dan sapi melahirkan berbagai tradisi yang memiliki nilai budaya tinggi, seperti Kerapan Sapi dan Sapi Sonok.
Sapi Sonok, yang mulai berkembang sekitar tahun 1960-an, menjadi salah satu gambaran bagaimana peternakan dapat berkelindan dengan kebudayaan masyarakat. Di balik sebuah tradisi, terdapat proses panjang yang dilakukan peternak: memelihara, merawat, melatih, dan menjaga kualitas ternak. Artinya, tradisi peternakan Madura sesungguhnya menyimpan pengetahuan lokal dan kerja keras yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, menjaga masa depan peternakan Madura tidak cukup hanya dengan mempertahankan tradisi. Tradisi memang penting, tetapi dunia terus berubah. Tantangan ketahanan pangan, perubahan teknologi, kebutuhan pasar, kualitas sumber daya manusia, hingga persoalan kesejahteraan peternak menuntut adanya langkah yang lebih adaptif.
Karena itu, pengembangan peternakan Madura harus berjalan beriringan dengan inovasi dan teknologi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan peternak, akses terhadap informasi dan teknologi, pengembangan pakan, peningkatan kualitas genetik ternak, serta kebijakan yang berpihak kepada peternak menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Sapi Madura sebagai salah satu plasma nutfah ternak lokal Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan. Keunggulannya sebagai sapi potong, ketahanannya terhadap lingkungan, serta nilai budaya yang melekat di dalamnya merupakan modal penting untuk memperkuat ekonomi masyarakat Madura sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional.
Di sinilah generasi muda memiliki peran penting. Mahasiswa peternakan tidak cukup hanya menjadi penonton dari perkembangan sektor peternakan. Kita harus hadir sebagai generasi yang mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas di lapangan. Ilmu yang diperoleh di ruang kelas harus mampu diterjemahkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi peternak.
Begitu pula pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang lebih kuat. Masa depan peternakan tidak dapat dibebankan hanya kepada peternak. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung agar peternak memiliki akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, pendampingan, serta kebijakan yang berkelanjutan.
Khusus bagi Madura, menjaga Sapi Madura berarti menjaga bagian dari sejarah dan identitas masyarakat. Namun, melestarikan bukan berarti membiarkannya berjalan tanpa perubahan. Justru, pelestarian harus disertai dengan pengembangan agar Sapi Madura tetap memiliki nilai ekonomi, budaya, dan strategis di tengah perkembangan zaman.
Saya berharap pemimpin dan generasi penerus di sektor peternakan Madura mampu memegang teguh warisan para pendahulu, melestarikan Sapi Madura dan budaya peternakan yang telah hidup di tengah masyarakat, sekaligus menghadirkan inovasi untuk menjawab tantangan masa depan.
Sebab, bagi saya, Peternakan bukan sekadar tentang ternak. Peternakan adalah tentang pangan, budaya, ekonomi, kemandirian, dan masa depan masyarakat.
Di momentum Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 ini, mari menjadikan warisan peternakan Madura bukan hanya sebagai sesuatu yang kita banggakan, tetapi juga sebagai potensi yang kita rawat, kembangkan, dan perjuangkan untuk generasi mendatang.
Salam cinta dari ujung kandang.
Hidup Mahasiswa Peternakan Indonesia!
Hidup Peternak Indonesia!
Hidup Sapi Madura! 🐂🇮🇩














