LPMSEMESTA– Tellasan Topa’, atau yang dikenal sebagai Lebaran Ketupat, merupakan salah satu tradisi khas masyarakat Madura yang sarat makna. Dilaksanakan pada hari ke-8 bulan Syawal setelah menunaikan puasa sunnah enam hari, perayaan ini bukan sekadar lanjutan dari Idul fitri, melainkan menjadi momentum yang terasa lebih hangat, lebih intim, dan bahkan lebih berkesan bagi sebagian masyarakat.
Lebaran ketupat pertama kali dikenalkan oleh Wali Songo yaitu Sunan Bonang. Ada beberapa penyebutan di Madura yaitu Tellasen Topa’ dan sering kali juga di kenal dengan bahasa Tellasen Petto’ Karena di laksanakan di hari ke tujuh pasca puasa Syawal.
Ketupat bukan hanya sekedar makanan yang di antarkan ke tetangga sekitar dan disajikan dengan opor ayam. Namun ada makna historis yang juga terkandung dalam didalamnya. Dilansir dari NU Online, Ketupat (Kupat, Katopak. Madura red) dalam bahasa Jawa diartikan sebagai laku sing papat atau amalan yang empat; yaitu puasa Ramadhan, zakat fitrah, memaafkan, dan silaturahim.
Ketupat atau laku sing papat juga di maknai empat keadaan yang dianugerahkan kepada mereka yang melakukan empat perbuatan; yaitu Lebar (selesai mengerjakan perintah puasa), Lebur (terhapus semua dosa di masa lalu), Luber (melimpah ruwah pahala amalannya), dan Labur (bersih dirinya dan bercahaya wajahnya).
Keadaan empat ini oleh Sunan Bonang diterjemahkan dengan istilah ‘Jatining Nur’ yang artinya hati yang putih dan bersih seperti janur yang bersih.
Tellasan Topa’ ini menunjukkan bagaimana nilai religius dapat bertransformasi menjadi kearifan lokal yang hidup dan lestari. Tradisi ini memiliki dimensi sakral, terutama di wilayah seperti Sumenep, di mana masyarakat memaknainya sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan terhadap ajaran agama. Perpaduan antara praktik ibadah dan budaya lokal inilah yang menjadikan Tellasan Topa’ unik dan autentik.
Ada beberapa tradisi di pulau Madura yang mewarnai datangnya lebaran ketupat ini yaitu adalah tradisi “ter-ater”. Tellasan Topa’ juga menjadi puncak silaturahmi. Tradisi saling bertukar makanan, mengantarkan hidangan ke tetangga, hingga berbagi kepada yang membutuhkan mencerminkan nilai kebersamaan yang kuat. Ini bukan hanya tentang ketupat sebagai simbol, tetapi tentang keikhlasan dalam berbagi dan mempererat hubungan antarindividu di tengah kehidupan yang semakin individualistis.
Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap hidup dan bahkan semakin menguat sebagai identitas kultural. Tellasan Topa’ bukan hanya warisan masa lalu, melainkan juga cerminan jati diri yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dengan demikian, Tellasan Topa’ adalah lebih dari sekadar perayaan melainkan simbol harmoni antara iman, budaya, dan kebersamaan yang patut diapresiasi dan dilestarikan.
Oleh : Abdur Rohman (Anggota LPM SEMESTA)















